Mengenai Saya

just simple girl :)

Sabtu, 23 Juli 2011

Grooming Hotel

  1. A. Pengertian
Kata grooming berarti penampilan yang rapi, serasi, dan harmonis. Dalam kata penampilan (appeaerance) tercakup aspek keadaan fisik tubuh, tata rias, sedemikian rupa sehingga menghasilkan penampilan yang serasi dan rapi.
Tidak ada wisatawan yang senang dilayani dengan karyawan yang kurang rapi. Penampilan yang  rapi, serasi, dan bersih dapat menyenangkan orang  yang diajak berbicara atau dilayani.
Apa beda Personal Hygiene dan Personal Grooming?
Kedua subjek ini saling tunjang-menunjang dalam pelaksanaannya. Personal Hygiene lebih menitik beratkan pada aspek kesehatan dan kesan sehat, sedangkan personal grooming lebih menitikberatkan pada aspek kerapian penampilan seseorang. Kedua bidang tadi (hygiene dan grooming) mempunyai bidang garapan yang sama yaitu sosok karyawan itu sendiri. Dengan demikian sosok karyawan yang baik adalah sosok yang rapi dan bersih dalam istilah perhotelan disebut Neat and Clean. Bahkan neat and claen ini dianggap sebagai salah satu ciri dan insan pariwisata termasuk insan perhotelan. Rapi dan bersih ditinjau dari sudut wisatawan, bukan ditinjau dari segi karyawan. Hotel perlu menetapkan bagaimana seharusnya penampilan karyawan yang baik. Bentuk penampilan ini kemudian dituangkan dalam suatu aturan atau “Standart Operatis Prosedure (SOP)” yang harus diikuti oleh karyawan.
Penampilan yang rapi, bersih ditambah dengan sikap ramah dan sopan akan sangat membantu karyawan dalam memberikan pelayanan yang memuaskan (satisfication). Sebagaimana kita ketahui bahwa salah satu ciri dari pada keberhasilan hotel menjual jasa pelayanan adalah pada kepuasan tamu (guest satisfication).
  • Tamu/wisatawan puas berarti pelayanan yang diterima baik. Dengan pelayanan yang baik tentu tamu/wisatawan akan rela membayar mahal dan keuntungan meningkat bagi hotel.
  • Sebaliknya apabila wisatawan tidak puas maka tamu akan mengeluh (complaint) dan perusahaan perusahaan akan mengalami kerugian.
Dengan demikian betapa pentingnya peranan grooming dalam dunia pelayanan jasa, khususnya pada dunia perhotelan. Masing – masing perusahaan berusaha mendesain pakaian seragam karyawan agar tampak rapi dan bersih mulai dari desain mode, warna, dan aksesories.

1.   Rambut (Hair)
  1. Rambut agar ditata tidak menutupi wajah.
  2. Jangan menggunakan jelly rambut berlebihan.
  3. Jangan menggunakan penggeras rambut berlebihan.
  4. Tatankan rambut (hair modeling) harus sesuai aturan.
  5. Jangan memaksakan tatanan mode yang sedang trendi.
Rambut Wanita
  1. Diijinkan menggunakan bando dengan warna hitam polos, apabila
Tidak disediakan bando oleh perusahaan.
  1. Rambut panjang yang melebihi rambut, harus digulung (ditata) rapi,
diikat atau disanggul atau dikepang.
  1. Jepit rambut, pita, karet untuk menjaga agar rambut tetap rapi harus berwarna hitam polos dengan ukuran yang sesuai.
Rambut  Pria
  1. Panjang rambut dibagian belakang tidak boleh melebihi kerah baju.
  2. Rambut orang Indonesia berwarna hitam degan demkian jangan mencat rambut dengan warna lain kecuali hitam.
  3. Type atau style potongan rambut agar sesuai aturan(rapi) jangan memaksakan style potongan rambut yang sedang trendy.
  4. Tidak berkumis.
  5. Tidak berjenggot.
  6. Tidak berjambang.
  1. Kulit (Skin)
Kebersihan kulit sangat perlu diperhatikan karena kulit yang bersih kan memberikan kesan yang baik kepada tamu. Membersihkan kulit dapat dilakukan cara mandi. Mandi yang direkomendasikan oleh para ahli kesehatan yakni dua kali sehari.
Mandi yang sesuai satandar yakni dengan menggunakan sabun dan bagian yang tertutup pun juga harus dibersihkan yakni alat kelamin dan dubur, karena merupakan saluran pengeluaran dari tubuh. Apabila tidak dibersihkan akan menjadi kotoran yang menumpuk dan akan menybabkan penyakit bagi tubuh.
Selain dengan mandi,menjaga kesehatan kulit juga dapat dilakukan dengan memakai moisturising pada bagian luar kulit.
  1. Gigi (teeth)
Kebersihan gigi perlu diperhatikan waktu berhadapan dengan tamu, karena secara tidak langsung ketika berbicara dengan tamu, gigi kita akan terlihat oleh tamu tersebut.
Kebersihan gigi dapat dilakukan dengan mengosok gigi setiap hari dengan pasta gigi. Jika tidak, gigi kita akan terinfeksi oleh kuman-kuman penyakit yang nantinya akan bisa membuat nafas tidak sedap, warna gigi berubah, kerusakan gigi dan gusi, serta yang paling parah yaitu keroposnya gigi.
Untuk itu gigi harus tetap dirawat secar teratur dan konsisten. Setidaknya enam bulan sekali melakukan pengecekan kesehatan gigi di dokter gigi.
4. Tangan (Hands)
  1. Tangan harus selalu bersih dan berkesan bersih.
  2. Kuku harus dipotong pendek dan tidak bernoda.
  3. Kuku dipotong rapi, rata, dan tidak ada yang patah.
  4. Karyawan wanita yang bekerja  operation (Front Office, Housekeeping, Restaurant, dan Bar) diijinkan memakai cat kuku berwarna bening.
  5. Karyawan wanita yang tidak berhubungan langsung dengan tamu diijinkan menggunakan cat kuku berwarna bening atau warna yang tidak mencolok.
5. Kesehatan Mestruasi (Menstrual Hygiene)
Menstruasi memang merupakan takdir dari seorang perempuan. Namun untuk hal yang satu ini pun harus dijaga kesehatannya.
Riset menunjukkan 1% dari wanita yang menstruasi membawa bakteri Staphylococcus aureus di dalam liang peranakan mereka. Bakteri ini dapat menyebabkan infeksi dan peradangan pada saluran reproduksi wanita. Peradangan ini dapat menyebabkan demam tinggi, mual-mual, bau yang tidak sedap, dan diare pada saat menstruasi. Untuk mencegah terjadinya peradangan tersebut, para wanita harus selalu membersihkan alat kelaminnya setiap hari dengan menngunakan sabun khusus kewanitaan.
6. Pakaian Seragam (Uniform)
a. Dijaga dengan baik agar dapat digunakan sesuai dengan waktunya.
b. Tidak ada bagian – bagian yang robek.
c. Selalu rapi dan tidak kusut.
d. Dikancing lengkap sesuai dengan desain.
e. Selalu bersih dan tidak ada noda.
f. Gunakan pakaian seragam yang sesuai dengan ukuran tubuh.
7. Pelat  Nama (Name Tag)
a. Name tag selalu dipakai selama bertugas sesuai dengan desainnya.
b. Dijaga agar utuh dan mudah dibaca.
c. Bersih, tidak tergores dan tidak ternoda.
8. Kebersihan Badan (Body Cleanliness)
a. Sering mandi 3x sehari dan terutama pada saat memulai tugas.
b. Hindari bau badan, gunakan deodorant seperlunya. Hal yang paling  menjengkelkan wisatawan adalah bau badan dan kehilangan senyum.
9. Perhiasan/jam tangan (watch)
a.   Hanya diijinkan menggunakan satu jam tangan,  ditangan kiri atau kanan.
b.   Jam tangan tidak boleh berwarna – warni.
c.   Permukaan jam tidak  boleh melebihi ukuran permukaan pergelangan tangan.
d.   Karyawan dapur tidak dijinkan memakai jam tangan selama bertugas.
10. Perhiasan/anting – anting(earing)
a.    Hanya karyawan wanita yang boleh menggunakan anting – anting.
b.   Jangan memakai anting – anting yang berjuntai.
c.   Hanya satu pasang anting – anting atau giwang yang boleh dipakai.
d.   Ukuran anting – anting tidak boleh bergaris tengah lebih dari 2 cm.
e.   Hanya satu pasang anting – anting atau giwang yang boleh dipakai.
f.    Warna anting – anting adalah warna emas, perak atau mutiara
11. Perhiasan/ kalung, gelang, dan cincin
Karyawan wanita dibagian operation (FO, HK, FB)
  1. Tidak diijinkan memakain gelang.
  2. Tidak boleh memakai kalung.
  3. Hanya satu cincin kawin yang  boleh dipakai di tangan kiri atau kanan.
karyawan wanita dibagian administrasi
  1. Boleh memakai satu kalung desain sederhana.
  2. Boleh memakai satu kalung desain sederhana.
  3. Boleh memakai satu cincin dengan desain sederhana.
12. Kaki (foot)
a.   Kuku kaki dipotong pendek, tidak boleh lebih panjang dari ujung kaki.
b.   Kuku kaki harus selalu bersih dan tidak bernoda.
c.   Hanya cat kuku kaki yang berwarna bening yang boleh dipakai karyawan
wanita
13 Alas Kaki(Footwear)
  1. Sepatu dan sandal yang digunakan harus sesuai dengan ukuran kaki.
  2. Alas kaki yang digunakan harus berwarna hitam.
  3. Sepatu, sandal, dan alas kaki lainnya harus dipakai sesuai dengan desainnya.
  4. Sepatu dan sandal yang boleh dipakai adalah yang sesuai dengan desain yang disediakan oleh perusahaan.
  5. Kaos kaki berwarna hitam, atau yang ditetapkan oleh perusahaan
Posture (Postur tubuh) Posture adalah sikap tubuh atau posisi tubuh pada waktu melaksanakan tugas. Postur tubuh ini juga dapat mempengaruhi tamu terhadap pelayanan yang diterima dan yang akan diterima. Postur tubuh yang tegap dan sigap memberikan kesan bahwa karyawan tersebut siap melayani dan meyakinkan akan melayani dengan baik.
Posture yang baik menandakan bahwa karyawan tersebut siap melayani atau willing to serve people. Postur tubuh yang baik adalah :
  1. Berdiri yang tegak pada kedua kaki. Tidak ada kaki yang tertekuk, atau digelayunkan atau digoyang – goyang.
  2. Dada dibusungkan keluar.
  3. Tonjolan perut ditarik sedikit.
  4. Jangan bersandar pada furniture.
  5. Jangan bersandar pada tembok.
  6. Jangan berjuntai atau bersikap lemah lunglai.
  7. Jangan berpangku tangan.
  8. Jangan menunjukan sikap yang tidak hygiene.
Jadilah karyawan hotel yang baik, siap melayani, rapi, dan bersih
    • Neat and Clean
    • Willing to Serve People
    • Courtesy (Manners)
    • Disciplined
    • Initiative and Inovative
    • Loyalty/Honest
     
  1. Neat and Clean (Kerapian dan Kebersihan) Dalam dunia perhotelan, kerapian dan kebersihan ruangan maupun karyawan sangatlah penting. Untuk itu hotel harus rutin mengadakan general check up bagi para karyawannya untuk menghindari penularan penyakit yang mungkin dibawa oleh karyawan mereka sendiri kepada para tamu yang mempercayakan jasa mereka.
    Kebersihan tubuh merupakan hal yang harus diperhatikan para karyawan hotel dalam menjalankan pekerjaan mereka.
    Kebersihan tubuh tersebut antara lain :
  2. Rambut
Rambut pria dipotong pendek atau tidak boleh gondrong. Rambut wanita ditata rapi dan tidak menutupi wajah dan kerah baju. Rambut yang panjang dan terurai dianggap tidak hygiene karena :
  1. Rambut panjang lebih sulit dibersihkan,
  2. Rambut panjang berkesan menyimpan kotoran,
  3. Rambut panjang dianggap mengganggu pekerjaan dan orang lain,
  4. Rambut panjang dan terurai memungkinkan ada yang jatuh ke dalam makanan atau mencemari tamu.
  5. Wajah
Wajah perlu ditata dan dirias, tetapi jangan menggunakan kosmetik yang berlebihan karena :
  1. Kosmetik yang berlebihan dapat mencemari makanan dan benda-benda lainnya,
  2. Bertata rias dengan kosmetik yang berlebihan tidak untuk bekerja sehingga berkesan tidak melayani.
  3. Hidung
    1. Bulu hidung jangan dibiarkan menjorok keluar. Bulu hidung yang tampak akan berkesan tidak hygiene dan menjijikan,
    2. Hidung perlu dibersihkan pada saat mandi.
    3. Mulut
      1. Jagalah kesehatan mulut dengan menyikat gigi sesering mungkin untuk menghindari bau mulut yang kurang sedap,
      2. Bersihkan gigi secara periodik hingga terbebas dari karang gigi. Kerak dan bau mulut yang tidak baik berkesan tidak hygiene.
      3. Kumis, jenggot, dan jampang
Karyawan hotel sebaiknya tidak berkumis, tidak berjampang, dan tidak berjenggot karena beberapa alasan :
  1. Kumis yang panjang, jenggot dan jampang berkesan tidak hygiene,
  2. Untuk mencegah tangan karyawan menyentuh/mempermainkan kumis, jenggot, dan jampang.
  3. Badan
Kebersihan dan kesehatan badan harus dijaga dengan baik dengan beberapa cara diantaranya :
  1. Mandi setiap akan memulai pekerjaan minimal 2 kalisehari untuk mencegah bau badan. Bau baan yang tidak sedap dan menyengat berkesan tidak hygiene,
  2. Memelihara kesehatan kulit dari panu, kadas, kurap yang berkean tidak hygiene dan jorok,
  3. Gunakan pakaian yang bersih/sudah dicuci setiap memulai pekerjaan. Pakaian yang berbau keringat, lusuh, dan dipakai tidak serasi memberikan kesan tidak hygiene.
  4. Tangan dan jari tangan
    1. Potonglah kuku sependek mungkin sehingga tidak ada tempat bagi otoran terselip antara kuku dan kulit,
    2. Cucilah tangan setelah merokok, setelah menyentuh bagian tubuh, dan setelah datang dari toilet atau dari jamban. Cucilah dengan menggunakan sabun dan bilas dengan air yang bersih,
    3. Tutuplah luka dengan plester luka yang bersih dan berwarna tidak mencolok,
    4. Jangan memakai jam tangan ataupun cincin permata selama bertugas karena ada kemungkinan bakteri tersimpan dan berkembang biak diantara kulit dan jam tangan/cincin tersebut,
    5. Jangan membuat tatto pada tubuh, karena tatto dianggap tiak hygiene.
    6. Kaki dan jari kaki
      1. Kuku jari kaki perlu dipotong sependek mungkin,
      2. Cucilah kaki ssering mungkin. Kuku yang panjang dan kaki yang jarang dicuci akan menimbulkan bau tidak sedap dan berkesan tidak hygiene,
      3. Jangan menggunakan sepat bertumit tinggi karena menyebabkan cepat lelah da menimbulkan sikap cuek dan emosional,
      4. Kaos kaki perlu diganti setiap hari.

Cara Membuat Blog

berikut adalah beberapa langkah untuk membuat blog , melalui blogger :)

Cara membuat akun Google

Sebelum belajar cara membuat blog, buatlah akun Google terlebih dahulu!

Kok akun Google? Google dan Blogger adalah milik perusahaan yang sama. Akun Google bisa anda gunakan untuk masuk ke fasilitas Blogger atau fasilitas Google lainnya, termasuk ke Blogger atau Blogspot.

Kita buat aja dulu akun Google. Caranya adalah sebagai berikut:
  • 1Klik di sini untuk masuk. Tampilan seperti di bawah ini (tampilannya terpotong) akan muncul

  • 2Isi data yang diminta sesuai permintaan. Data tersebut adalah Nama Depan, Nama Belakang, Nama Login yang Diinginkan, Buat Sandi, Masukkan Kembali Sandi, Pertanyaan Rahasia, Jawaban (pertanyaan rahasia anda), Email Pemulihan (boleh kosong), Lokasi, dan Verifikasi Kata.

    Pelan-pelan aja mengisinya supaya tidak ada kesalahan!
  • 3Tekan Saya Menerima. Buat Akun Saya

Mari mulai belajar cara membuat blog

Sekarang masuk ke Blogger

Setelah membuat akun Gmail seperti di atas, anda sudah bisa masuk ke Blogger.
  • 1Klik di sini untuk masuk ke Blogger.

  • 2Isi Nama Pengguna (Email) dan Kata Sandi anda.
  • 3Tekan Masuk
  • 4Anda akan dibawa ke Dasbor Blogger dengan tampilan sebagai berikut:

  • 5Tekan Buat Blog (di sudut kanan atas, di bawah Bahasa) untuk membuat blog anda
  • 6Beri nama blog anda, berisi Judul Blog, Alamat Blog (url) dan Verifikasi Kata

Mengganti Template?
Blogger sudah memasang Template Designer New yang berbeda dengan sebelumnya. Lihat cara menggunakannya di sini

Cara membuat entri atau postingan

Sekarang kita buat entri atau posting anda di blog.
  • 1Dari dasbor anda, akan tampak semua blog yang sudah anda buat. Lalu di bawah judul masing-masing blog akan ada pilihan-pilhan, termasuk di dalamnya untuk membuat entri baru, seperti di bawah ini
    . Klik buat entri baru

  • 2Maka kemudian muncul window tempat anda membuat entri atau postingan. Di situ ada Judul, kemudian Isi entri, lalu Label atau Ketegori.

  • 3Setelah selesai menuliskan entri anda, tinggal klik Terbitkan untuk menerbitkan entri tersebut. Atau bisa juga Draft (entrinya tetap ada cuma tidak terbit), kemudian Pratinjau untuk melihat entri itu sebelum diterbitkan.
  • 4Untuk melihat bagaimana tampilan entri tadi dalam blog anda, klik kanan Lihat Blog

Sejarah Perhotelan

SEJARAH PERKEMBANGAN PERHOTELAN


Hotel berasal dari kata hostel, konon diambil dari bahasa Perancis kuno. Bangunan publik ini sudah disebut-sebut sejak akhir abad ke-17. Maknanya kira-kira, "tempat penampungan buat pendatang" atau bisa juga "bangunan penyedia pondokan dan makanan untuk umum". Jadi, pada mulanya hotel memang diciptakan untuk meladeni masyarakat.
Tak aneh kalau di Inggris dan Amerika, yang namanya pegawai hotel dulunya mirip pegawai negeri alias abdi masyarakat. Tapi, seiring perkembangan zaman dan bertambahnya pemakai jasa, layanan inap-makan ini mulai meninggalkan misi sosialnya. Tamu pun dipungut bayaran. Sementara bangunan dan kamar-kamarnya mulai ditata sedemikian rupa agar membuat tamu betah. Meskipun demikian, bertahun-tahun standar layanan hotel tak banyak berubah.
Sampai pada tahun 1793, saat City Hotel dibangun di cikal bakal wilayah kota New York. City Hotel itulah pelopor pembangunan penginapan gaya baru yang lebih fashionable. Sebab, dasar pembangunannya tak hanya mementingkan letak yang strategis. Tapi juga pemikiran bahwa hotel juga tempat istirahat yang mumpuni. Jadi, tak ada salahnya didirikan di pinggir kota.
Setelah itu, muncul hotel-hotel legendaris seperti Tremont House (Boston, 1829) yang selama puluhan tahun dianggap sebagai salah satu tempat paling top di Amerika Serikat (AS). Tremont bersaing ketat dengan Astor House, yang dibangun di New York, 1836. Saat itu, hotel modern identik dengan perkembangan lalu lintas dan tempat beristirahat. Saat pembangunan jaringan kereta api sedang gencar-gencarnya, hampir di tiap perhentian (stasiun) ada hotel.
Maksudnya jelas, untuk mengakomodasi orang-orang yang baru saja bepergian dengan kereta api. Karena masa itu naik kereta api sangat melelahkan, hotel-hotel pun "dipersenjatai" berbagai hiburan pelepas penat. Hotel jenis ini, diembeli-embeli dengan kata "transit", karena memang ditujukan buat para musafir.
Seiring dengan berkembangnya teknologi dan makin luasnya jangkauan angkutan darat (terlebih setelah ditemukannya kendaraan bermotor), kawasan sekitar rel kereta api tak lagi menarik minat para investor. Orang kemudian lebih suka jalan-jalan pakai mobil ketimbang kereta. Kepopuleran hotel transit pun tersaingi oleh kehadiran "motel", gabungan kata "motor hotel" alias tempat istirahat para pengendara kendaraan bermotor.
Kejayaan motel tak berlangsung lama. Seiring makin pesatnya perkembangan kota, berakhir pula era motel. Terutama karena letaknya yang agak di pinggir kota dan fasilitasnya yang kalah bagus dengan hotel di pusat kota. Kalaupun terpaksa bermalam di kawasan pinggiran, motel harus bersaing dengan hotel resort, yang banyak tumbuh di tempat-tempat peristirahatan.
Selain hotel, resort, anak-anak kandung hotel yang lahir di era 1990-an tak kalah hebatnya. Sebut saja berbagai extended-stay hotel, khusus buat tamu yang membutuhkan tempat menginap minimal lima malam. Sedangkan pelaku bisnis yang harus bernegosiasi di kampung atau negeri orang, bisa mencari hotel apartment. Di Amerika, dua jenis hotel ini berkembang sangat pesat.
Di Indonesia, kata hotel selalu dikonotasikan sebagai bangunan penginapan yang cukup mahal. Umumnya di Indonesia dikenal hotel berbintang, hotel melati yang tarifnya cukup terjangkau namun hanya menyediakan tempat menginap dan sarapan pagi, serta guest house baik yang dikelola sebagai usaha swasta (seperti halnya hotel melati) ataupun mess yang dikelola oleh perusahaan-perusahaan sebagai tempat menginap bagi para tamu yang ada kaitannya dengan kegiatan atau urusan perusahaan.
Bilamanakah cikal bakal penginapan ini dimulai belumlah ada suatu kepastian. Namun yang dapat diketahui adalah bahwa cikal bakal tempat penginapan ini adalah rumah makan tempat persinggahan yang kemudian berkembang menjadi tempat penginapan. Dari buku-buku sejarah diketahui bahwa Abad ke 18 sebelum Masehi telah diperlukannya penginapan untuk para pedagang yang datang dari jauh yang disebut dengan Hammurabi Pada abad pertama sekitar tahun 79 sebelum kota Pompeii dan Herculaneum di Selatan Italia, masih dapat dilihat peninggalannya setelah terkubur akibat meletusnya Gunung Vesuvius. Sekitar 118 bar dan rumah makan dapat di-indentifikasikan. Pada jaman itu dikenal dengan sebutan hospiteum, caupona, popina, thermopoliums dan tabernas Di-abad ke 3 kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan Kaisar Theodosius mendirikan tempat persinggahan untuk beristirahat dan menginap. Penginapan masih dalam bentuk penyewaan sebuah kamar. Di Jeman dan Negeri Belanda dikenal dengan sebutan dengan sebutan Herberg di Inggris disebut Inn. Sedangkan di Indonesia dikenal istilah pasanggrahan .
Hospiteum dan caupano merupakan cikal bakal dari hotel yang menyediakan penginapan, makanan dan minuman anggur. Tabernas merupakan cikal bakal dari bar yang dikenal sekarang ini. Tempat ini biasanya dijadikan pula sebagai tempat perjudian dan pelacuran
Thermopoliums merupakan cikal bakal dari yang dikenal sekarang sebagai snack-bar. Ditempat ini dijual minuman anggur panas dan makanan ringan yang ditata diatas meja marmer. Sedangkan popina merupakan cikal bakal yang dikenal sekarang sebagai restoran, yang hanya menyajikan hidangan panas dan berat saja.
Tidaklah mengherankan apabilah istilah hospitality yang artinya tempat menginap yang ramah dan menyenangkan ini berasal dari bahasa Latin hospitium yang mempunyai kaitan dengan kata host, hospice, hostelry dan hotel.

Bilamanakah cikal bakal penginapan ini dimulai belumlah ada suatu kepastian. Namun yand dapat diketahui adalah bahwa cikal bakal tempat penginapan ini adalah rumah makan tempat persinggahan yang kemudian berkembang menjadi tempat penginapan. Dari buku-buku sejarah diketahui bahwa Abad ke 18 sebelum Masehi telah diperlukannya penginapan untuk para pedagang yang datang dari jauh yang disebut dengan Hammurabi Pada abad pertama sekitar tahun 79 sebelum kota Pompeii dan Herculaneum di Selatan Italia, masih dapat dilihat peninggalannya setelah terkubur akibat meletusnya Gunung Vesuvius. Sekitar 118 bar dan rumah makan dapat di-indentifikasikan. Pada jaman itu dikenal dengan sebutan hospiteum, caupona, popina, thermopoliums dan tabernas Di-abad ke 3 kekaisaran Romawi dibawah kekuasaan Kaisar Theodosius mendirikan tempat persinggahan untuk beristirahat dan menginap. Penginapan masih dalam bentuk penyewaan sebuah kamar. Di Jeman dan Negeri Belanda dikenal dengan sebutan dengan sebutan Herberg di Inggris disebut Inn. Sedangkan di Indonesia dikenal istilah pasanggrahan .
Hospiteum dan caupano merupakan cikal bakal dari hotel yang menyediakan penginapan, makanan dan minuman anggur. Tabernas merupakan cikal bakal dari bar yang dikenal sekarang ini. Tempat ini biasanya dijadikan pula sebagai tempat perjudian dan pelacuran
Thermopoliums merupakan cikal bakal dari yang dikenal sekarang sebagai snack-bar. Ditempat ini dijual minuman anggur panas dan makanan ringan yang ditata diatas meja marmer. Sedangkan popina merupakan cikal bakal yang dikenal sekarang sebagai restoran, yang hanya menyajikan hidangan panas dan berat saja.
Tidaklah mengherankan apabilah istilah hospitality yang artinya tempat menginap yang ramah dan menyenangkan ini berasal dari bahasa Latin hospitium yang mempunyai kaitan dengan kata host, hospice, hostelry dan hotel.

On the Job Training method

The method by which job training is delivered often varies based on the needs of the company, the trainee, and on the task being performed.

There are many different ways to train. Indeed, entire books have been written on the ways to deliver training. How can a manager charged with training his or her employees choose an appropriate method? This article defines some of the most common training methods and reviews pros and cons for each one.

The method by which training is delivered often varies based on the needs of the company, the trainee, and on the task being performed. The method should suit the audience, the content, the business¡¦ environment, and the learning objective. Ideally, the method chosen will motivate employees to learn, help employees prepare themselves for learning, enable the trainees to apply and practice what they've been taught, help trainees retain and transfer what they have learned, and integrate performance with other skills and knowledge.

Other factors affecting the choice of a training method include:

-Age, gender, or level of education of the trainees

-Learning styles of the trainees

-Number of trainees

-Budget

-Trainer's skills and training style


Common group training methods include:

Lecture

A lecture is the method learners often most commonly associate with college and secondary education. Yet, it is also considered one of the least effective methods to use for adult learners. In this method, one person (the trainer) does all of the talking. He or she may use handouts, visual aids, question/answer, or posters to support the lecture. Communication is primarily one-way: from the instructor to the learner.

Pros: Less time is needed for the trainer to prepare than other methods. It provides a lot of information quickly when it is less important that the trainees retain a lot of details.

Cons: Does not actively involve trainees in training process. The trainees forget much information if it is presented only orally.

Demonstration

Demonstration is very effective for basic skills training. The trainer shows trainees how to do something. The trainer may provide an opportunity for trainees to perform the task being demonstrated.

Pros: This method emphasizes the trainee involvement. It engages several senses: seeing, hearing, feeling, touching.

Cons: It requires a great deal of trainer preparation and planning. There also needs to be an adequate space for the training to take place. If the trainer is not skilled in the task being taught, poor work habits can be learned by the trainee.

Seminar

Seminars often combine several group methods: lectures, discussions, conferences, demonstrations.

Pros: Group members are involved in the training. The trainer can use many group methods as part of the seminar activity.

Cons: Planning is time-consuming. The trainer must have skill in conducting a seminar. More time is needed to conduct a seminar than is needed for many other methods.

Conference

The conference training method is a good problem-solving approach. A group considers a specific problem or issue and they work to reach agreement on statements or solutions.

Pros: There is a lot of trainee participation. The trainees build consensus and the trainer can use several methods (lecture, panel, seminar) to keep sessions interesting.

Cons: It can be difficult to control a group. Opinions generated at the conference may differ from the manager¡¦s ideas, causing conflict.

Panel

A panel provides several points of view on a topic to seek alternatives to a situation. Panel members may have differing views but they must also have objective concerns for the purpose of the training. This is an excellent method for using outside resource people.

Pros: Trainees often find it interesting to hear different points of view. The process invites employees to share their opinions and they are challenged to consider alternatives.

Cons: It requires a great deal of preparation. The results of the method can be difficult to evaluate.

Role Playing

During a role play, the trainees assume roles and act out situations connected to the learning concepts. It is good for customer service and sales training.

Pros: Trainees can learn possible results of certain behaviors in a classroom situation. They get an opportunity to practice people skills. It is possible to experiment with many different approaches to a situation without alienating any actual customers.

Cons: A lot of time is spent making a single point. Trainers must be skilled and creative in helping the class learn from the situation. In some role play situations, only a few people get to practice while others watch.

Case Studies

A case study is a description of a real or imagined situation which contains information that trainees can use to analyze what has occurred and why. The trainees recommend solutions based on the content provided.